Ketika Kebenaran Menjadi Asing

Bagikan Keteman :


Aku menyaksikan sebuah fenomena yang sungguh menyedihkan — bahkan menyesakkan hati.
Kemungkaran kini tak lagi dianggap kemungkaran.
Kemaksiatan bukan lagi sesuatu yang menakutkan, tapi telah menjadi hal biasa, wajar, bahkan dibanggakan.
Dan yang paling memilukan, siapa pun yang berani menegurnya, justru akan dimusuhi, dihina, dicibir, dan dipinggirkan.

Fenomena ini tidak jauh, bukan di televisi, bukan di kota lain — tapi terjadi di sekitar kita sendiri, bahkan di lingkaran orang-orang terdekat.
Riba dianggap kebutuhan, suap dianggap strategi, dusta dianggap kelicikan cerdas.
Dan ketika seorang ustadz ikhlas mencoba menegur lewat dakwahnya, aku menyaksikan dengan mataku sendiri — ia dihujat, ditertawakan, dicibir oleh mereka yang hatinya sudah tertutup oleh kepentingan dunia.

Betapa pedih rasanya melihat kebenaran dipatahkan oleh mereka yang dulu belajar agama bersama kita, berdoa bersama kita, tapi kini tak lagi peduli.


🌫️ Zaman di Mana Dosa Menjadi Normal

Nabi ﷺ telah mengabarkan akan datang suatu masa seperti ini.
Masa di mana manusia tidak lagi peduli dari mana datangnya harta — halal atau haram.
Masa di mana debu riba akan menempel pada siapa pun, meski ia berusaha menjauhinya.
Masa di mana suara kebenaran terdengar asing, bahkan mengganggu kenyamanan mereka yang tenggelam dalam kebatilan.

Kini masa itu telah tiba.
Dan yang paling menyakitkan adalah ketika yang melakukannya adalah orang-orang yang kita cintai.


💔 Ketika yang Salah Justru Membenci yang Benar

Fenomena ini membalikkan nilai-nilai.
Yang jujur dianggap keras kepala.
Yang lurus dianggap fanatik.
Yang berani berkata benar dianggap mengusik keharmonisan.

Padahal, harmoni semu yang dibangun di atas dosa bukanlah kedamaian — itu hanya kebohongan kolektif yang menenangkan sesaat tapi menghancurkan selamanya.
Sedangkan suara kebenaran, meski terdengar keras dan menyakitkan, sejatinya adalah obat bagi jiwa.


🌿 Menjadi Orang Asing di Tengah Ramainya Dunia

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti semula. Maka berbahagialah orang-orang yang terasing itu.”
(HR. Muslim)

Menjadi orang asing bukanlah aib, tapi kehormatan.
Ketika banyak orang tertawa bersama kebohongan, orang yang berani menangis karena kebenaran adalah orang yang masih hidup hatinya.
Ketika banyak orang menutup mata terhadap dosa, engkau yang masih peduli justru sedang dijaga oleh Allah agar tidak ikut buta.

Maka jangan takut menjadi asing.
Biarlah engkau sendiri dalam kesepian kebenaran, daripada ramai dalam pesta kebohongan.


🌤️ Tetaplah Menolak Dalam Diam

Jika ucapanmu ditolak, jika teguranmu disalahpahami, jangan putus asa.
Doa yang kau panjatkan dalam keheningan jauh lebih kuat daripada seribu kata yang tak didengar.
Tetaplah menolak dengan hatimu, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

“Barang siapa melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya — dan itulah selemah-lemahnya iman.”
(HR. Muslim)

Menolak dengan hati bukan berarti menyerah, tetapi cara menjaga agar imanmu tetap hidup meski dunia sekitarmu telah mati rasa.


🌺 Doa Seorang Mukmin di Tengah Kegelapan

“Ya Allah, jangan Kau matikan nuraniku di tengah dunia yang terbiasa dengan dosa.
Jangan Kau jadikan aku buta oleh kenyamanan semu dunia.
Lindungilah aku dan keluargaku dari riba, suap, dan kebohongan.
Berilah kami kekuatan untuk tetap lurus, meski harus berjalan sendirian di jalan-Mu.”


Penutup

Kebenaran hari ini memang terasa asing.
Namun janganlah bersedih, karena Allah selalu bersama orang-orang yang jujur dan sabar.
Biarlah dunia mencibir, asalkan langit merestui langkahmu.
Sebab, di tengah dunia yang terbiasa dengan dosa, menjadi orang yang tetap takut kepada Allah adalah kemuliaan tertinggi.


By: Andik Irawan

Related posts

Leave a Comment